
Pulau Lombok kembali menjadi pusat perhatian dunia medis nasional dengan terselenggaranya Annual Meeting Perhimpunan Bedah Anak Indonesia (PERBANI) ke-32. Acara ini digelar di Hotel Lombok Raya, Mataram, NTB, pada Jumat (24/10), dan dihadiri oleh lebih dari 260 peserta yang terdiri dari dokter spesialis bedah anak, dokter umum, residen, serta tenaga medis lainnya.
Ketua PERBANI, dr. I Made Darmajaya, Sp.BA, menjelaskan bahwa acara ini merupakan evolusi dari Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) menjadi PAM (Perhimpunan Annual Meeting), sejalan dengan meningkatnya skala dan cakupan peserta bahkan melibatkan unsur internasional.
“Saya memilih Lombok karena panitianya siap, fasilitasnya mendukung, dan ini menjadi kesempatan memperkenalkan keindahan alam NTB kepada peserta,” ujar dr. Darmajaya kepada wartawan.
Selain sesi-sesi ilmiah dan rapat anggota, acara juga dimeriahkan dengan kegiatan pendamping seperti olahraga, lomba cerdas cermat antar calon spesialis, serta program ladies yang mengajak peserta menikmati wisata lokal, termasuk malam keakraban di kawasan Senggigi.
Di tengah kemeriahan acara, narasumber dan peserta turut menyoroti fakta krusial: kekurangan tenaga dokter spesialis bedah anak di provinsi NTB. Saat ini tercatat hanya tiga dokter spesialis bedah anak yang bertugas di Lombok — dua di RSUD Provinsi NTB dan satu di RSUD Kota Mataram.
Sementara itu, di Pulau Sumbawa belum ada sama sekali dokter spesialis bedah anak, padahal kasus bedah anak di sana cukup signifikan dan bersifat darurat.
dr. Darmajaya menegaskan bahwa anak bukanlah versi mini dari orang dewasa, sehingga penanganannya harus mengedepankan keahlian khusus. Ia juga mengingatkan pentingnya dukungan dari pemerintah pusat dan daerah, khususnya melalui program beasiswa spesialis bagi dokter umum agar mereka bisa kembali bertugas di daerah asalnya.
Sekretaris Jenderal PERBANI, dr. Kurniawan Noki Pamungkas, Sp.BA, turut optimistis bahwa dengan dukungan seluruh pihak, setiap provinsi dapat memiliki dokter bedah anak yang memadai.
Dari sisi penyelenggara lokal, dr. Sunanto, Sp.BA — Ketua Panitia Lokal PAM 2025 dan bertugas di RSUD Provinsi NTB — menyampaikan bahwa pihaknya tengah mendukung calon dokter spesialis bedah anak asal Sumbawa yang saat ini masih dalam pendidikan dan diharapkan rampung dalam waktu dekat.
Ia juga menyoroti akibat praktis: pasien anak dari Dompu, Bima, dan Sumbawa masih sering dirujuk ke Mataram. Dalam kasus darurat, rujukan jarak jauh ini bisa memperbesar risiko bagi keselamatan pasien.
Anda harus masuk untuk berkomentar.
