Tentang Kami

Sejarah dan Perkembangan Bedah Anak di Indonesia

Pembentukan organisasi profesi Perhimpunan Bedah Anak Indonesia (PERBANI) sudah diwacanakan pada tahun 1974 saat diselenggarakannya Kongres ke 3 Ikatan Ahli Bedah Indonesia (IKABI) di Jakarta. Pada tanggal 21 Oktober 1975 beberapa orang spesialis bedah yang berinisiatif mendirikan organisasi profesi bedah anak (founders) berkumpul, dan mendeklarasikan berdirinya Perhimpunan Bedah Anak Indonesia  disingkat PERBANI. Para founders adalah Prof. Heyder bi Heyder, dr. Adang Zainal Kosim, dr. John Pieter, Dr. Mudito Mardjikoen, dr. Darmawan Kartono, dr. Widanto Hardjowasito, dr. Chairul Ismael, dr. Ganung Narendraputra, dr. Eddy Mulyanto Halimun, dan dr. Nugraha.

Pada awalnya PERBANI terbuka bagi mereka yang menjalankan profesi kedokteran apapun dan menaruh minat terhadap bedah anak dan berhasrat memajukannya. Tetapi dalam perkembangannya keanggotaan PERBANI didominasi oleh para spesialis bedah anak, sementara mereka yang berasal dari profesi lain tidak banyak terlibat mengingat juga menjadi anggota dari organisasi mereka sendiri.

Selain berkiprah sebagai suatu organisasi profesi, PERBANI juga menyiapkan penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis bedah anak di Indonesia. Hal ini terwujud dengan dimulainya pendidikan bedah anak oleh PERBANI dengan tempat penyelenggaraan di RS. Ciptomangunkusumo, Jakarta. Pendidikan diawali dengan mendidik 3 (tiga) trainee yang telah menyelesaikan pendidikan spesialis bedah dengan lama pendidikan 2 (dua) tahun. Para trainee yang pertama kali mengikuti pendidikan adalah dr. Chairul Ismael, dr. Amir Thayeb dan dr. Farid Nurmantu. Setelah menyelesaikan pendidikan, mereka kembali ke tempat semula, bertugas sebagai staf pengajar di program pendidikan spesialis bedah, sekaligus mengembangan ilmu bedah anak di tempat masing- masing.

Dengan bertambahnya lulusan pendidikan bedah anak yang ditempatkan di beberapa Rumah Sakit yang memiliki pendidikan spesialis bedah, maka pusat pendidikan spesialis bedah anak mulai tersebar dibeberapa tempat selain RS. Ciptomangunkusumo Jakarta. Tercatat RS. Hasan Sadikin Bandung dan RS. Soetomo Surabaya mendapat Surat Keputusan PERBANI pada bulan Juli 1997 untuk menjadi tempat penyelenggaraan pendidikan bedah anak, disusul RS. Sardjito Yogyakarta.

Meskipun pendidikan bedah anak sudah berjalan lebih dari 20 tahun, evaluasi mengenai jumlah dan distribusi spesialis bedah anak di Indonesia ternyata masih sedikit dibandingkan kebutuhan untuk pelayanan bedah anak, dimana rata-rata hanya ada 1 (satu) lulusan pertahun yang mampu dihasilkan oleh keempat institusi pendidikan tersebut. Berdasarkan evaluasi tersebut maka pada Rapat Pengurus PERBANI 18 Agustus 2001 dan Rapat Pengurus PERBANI tahun 2002 di Semarang telah diputuskan bahwa pendidikan spesialis bedah anak juga akan diselenggarakan sebagai pendidikan formal yakni Pendidikan Spesialis 1 berbasis Universitas. Untuk keperluan tersebut, maka PERBANI selanjutnya membentuk Kolegium Bedah Anak Indonesia pada tahun 2004 yang bertugas membuat kurikulum dan standar pendidkan bedah anak, dan bersama institusi pendidikan (Fakultas Kedokteran) mengajukan usulan pembentukan program studi bedah anak di Fakultas Kedokteran yang sarana dan prasarananya telah siap. Ketua Kolegium Bedah Anak Indonesia yang pertama adalah Prof. Farid Nurmantu yang memikul jabatan tersebut dari tahun 2004-2006.

Kolegium Bedah Anak Indonesia telah disahkan sebagai badan hukum berbentuk perkumpulan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor : AHU-00696.AH.02.01.Tahun 2016.

Pada tahun 2006, izin penyelenggaraan program studi bedah anak FK. UNPAD dan FK. UGM diterbitkan oleh Dirjen Dikti Kemendikbud, disusul izin penyelenggaraan program studi bedah anak FK. UNAIR pada tahun 2014.

Pendidikan spesialis bedah anak terus diupayakan di beberapa pusat pendidikan bedah yang lain dengan tujuan menghasilkan lebih banyak spesialis bedah anak dan memperluas jangkauan pelayanan bedah anak yang merata di seluruh Indonesia.

Saat ini selain tiga pusat pendidikan spesialis bedah anak (FK. UNPAD, FK. UGM dan FK. UNAIR), FK. UNHAS (Makasar) telah mendapat persetujuan pembukaan program studi bedah anak baru, dan akan mulai menerima peserta didik pada awal tahun 2023.

Upaya membuka pendidikan spesialis bedah anak di FK. UI mendapat rintangan yang cukup berat, disebabkan para staf pendidik di Divisi Bedah Anak FK. UI/ RS. Ciptomangunkusumo tetap menginginkan keberlanjutan pendidikan bedah anak dari lulusan pendidikan spesialis bedah, dengan tujuan tetap menghasilkan lulusan bedah anak yang juga berpraktek sebagai spesialis bedah umum. Meskipun kompetensi yang dimiliki lulusan pendidikan ini sama dengan lulusan pendidikan spesialis bedah anak, ternyata pendidikan ini tetap diakomodasi oleh FK. UI sebagai salah satu pendidikan subspesialis dari Kolegium Ilmu Bedah Indonesia (KIBI) melalui SK. Rektor UI pada tahun 2013. 

PERBANI sebagai suatu organisasi profesi juga telah semakin berkembang dan memantapkan diri sebagai salah satu Organisasi Profesi Lingkungan Bedah (OPLB) yang bernaung dibawah Ikatan Dokter Spesialis Bedah Indonesia (IKABI). Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PERBANI yang telah direvisi dan disahkan pada tahun 2018 telah semakin menguatkan PERBANI sebagai suatu organisasi profesi. Keanggotaan PERBANI yang hanya mengakomodasi dokter spesialis bedah anak dengan STR Sp.BA saja semakin menunjukkan profesionalitas para anggotanya. Berbagai upaya organisasi yang menyangkut kepentingan anggota dalam keterlibatannya sebagai salah satu bagian dari pelayanan kesehatan masyarakat semakin diprioritaskan. Termasuk upaya peningkatan jumlah spesialis bedah anak dan distribusinya di seluruh wilayah negeri. Pengembangan kompetensi anggota melalui berbagai pelatihan di dalam negeri, workshop-workshop, maupun observership di luar negeri menjadi modal dan kemampuan daya saing yang tinggi terhadap kemungkinan masuknya tenaga kerja spesialis bedah anak di era globalisasi nanti.

PERBANI juga aktif menjalankan perannya dalam kancah profesi bedah anak tingkat internasional. Dalam hal ini PERBANI juga merupakan anggota dari Asosiasi Bedah Anak Internasional seperti World Organization and Federation of Association Pediatric Surgery (WOFAPS) dan Association of Society of Pediatric Surgeons ASEAN (ASPS).

Saat ini melalui Komisi Bersama Kemenkes-Kemendikbud sedang diupayakan peningkatan kuota peserta didik program pendidikan spesialis melalui peningkatan ratio dosen-mahasiswa menjadi 1:5. Selain itu percepatan pembukaan program studi spesialis baru juga merupakan upaya pemerintah melalui Komisi Bersama diatas untuk mengatasi keterbatasan tenaga dokter spesialis. Hal ini sejalan dengan rencana Kolegium Bedah Anak Indonesia untuk merekomendasikan pembukaan program studi baru di FK. UNAND, Padang dan FK. USU, Medan, serta FK UNDIP, Semarang.

Peningkatan kualifikasi spesialis bedah anak secara informal telah dilaksanakan oleh Kolegium Bedah Anak Indonesia dengan membuka Pendidikan Subspesialis Bedah Anak (Kolegium Base) yang pada suatu saat nanti akan diusulkan lewat Fakultas Kedokteran untuk manjadi pendidikan subspesialis berbasis Universitas. Demikian pula evaluasi bagi para spesialis bedah anak melalui pengalaman kerja, rekognisi pembelajaran lampau (RPL) dan kegiatan akademik profesional yang pernah dijalankan, menjadi dasar bagi Kolegium untuk mengusulkan pemutihan yang bersangkutan untuk mendapatkan sertifikat Kualifikasi Tambahan (STR-KT) subspesialis (Bedah Digestif Anak dan Bedah Urogenital Anak). Dengan demikian diharapkan kelengkapan sarana dan prasarana untuk pelayanan dan pendidikan bedah anak dapat dipenuhi dengan sempurna..

Demikianlah sekilas sejarah dan riwayat perkembangan PERBANI dan Kolegium Bedah Anak Indonesia. Melalui perjuangan yang berat dari para founders dan Pengurus PERBANI serta Kolegium Bedah Anak Indonesia yang silih berganti, era kebesaran profesi bedah anak di masa depan akan terwujud secara pasti melalui perannya yang maksimal untuk menjadikan anak Indonesia sebagai generasi emas.

PERBANI dan KOLEGIUM BEDAH ANAK INDONESIA.